Kalau kita meninjau alam material secara keseluruhan, kita akan melihat juga fenomena ini. Allah s.w.t. telah menyempurnakan ciptaan-Nya dengan memulai dari zarah paling kecil sampai kepada benda langit yang terbesar yaitu matahari. Dalam sistem material ini tidak diragukan bahwa Allah s.w.t. telah mencipta-kan matahari sebagai suatu benda yang akbar, berberkat dan bermanfaat dimana tidak ada benda lain yang menyamainya di tingkat paling tinggi. Dengan memperhatikan derajat yang tertinggi dan terendah dari sistem demikian yang secara kasat mata bisa diperhatikan, kita bisa memahami bahwa sistem keruhanian pun yang berasal dari Wujud-Nya, ternyata disusun dalam cara yang sama. Sistem keruhanian ini pun memiliki titik tertinggi dan terendahnya. Kinerja Allah s.w.t. dengan demikian selalu sama dan seimbang. Dia itu Maha Tunggal dan dalam manifestasi kinerja-Nya, Dia pun menyukai ketunggalan. Tidak ada tempat bagi kerancuan dan perpecahan. Betapa indah dan pantasnya Dia dalam metoda-Nya sehingga semua hasil kinerja-Nya mengikuti suatu sistem yang baku dan dipadankan satu dengan yang lain.
Dengan menemukan bukti di segenap penjuru dan setelah kami telaah sendiri, kami mengakui kadiah-Nya bahwa semua hasil kinerja-Nya, baik secara keruhanian maupun material, tidak baur dan rancu melainkan mengikuti suatu sistem yang bijak dan merupakan bagian dari suatu pengaturan yang dimulai dari titik terendah bergerak ke arah yang tertinggi, dimana metoda seragam ini disukai oleh Wujud-Nya. Dengan mengakui hal ini maka kami harus mengakui bahwa sebagaimana dalam sistem material yang dimulai dari sebutir zarah atau partikel, Tuhan telah membawa ciptaan-Nya sampai kepada bentuk yang akbar yaitu matahari yang mengandung kesempurnaan yang kasat mata, begitu juga kiranya dalam hal yang berkaitan dengan matahari keruhanian yang terletak di titik tertinggi dari garis lurus keruhanian.
Sekarang untuk meneliti siapakah manusia sempurna yang diandaikan sebagai matahari keruhanian tersebut, bukanlah suatu hal yang bisa dipecahkan semata-mata hanya berdasar logika saja. Dengan mengecualikan Allah s.w.t. yang memiliki kelebihan kemampuan dalam menyeimbangkan dan mengatur bermilyar-milyar makhluk-Nya serta membanding-bandingkan kemampuan spiritual dan sifatnya masing-masing untuk menetapkan siapa yang paling akbar dari antara sekalian makhluk tersebut, bagi manusia mustahil melakukannya berdasar penalaran belaka.
Assalamualaikum wr.. Selamat membaca..
ReplyDelete