Monday, April 4, 2011

Lembaran Tarbiyat 3 / 2011



NASIHAT UNTUK ANGGOTA JEMAAT

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Semua kemuliaan itu ada di tangan Allah. Banyak sudah orang-orang soleh yang berlalu dari dunia ini. Mereka itu bukan orang-orang dunia, cara hidup mereka begitu sederhana sehingga tidak ada yang bertanya kepada mereka, tetapi mereka semata-mata untuk Tuhan dan Tuhan menarik seluruh dunia ke arah mereka. Yakinlah sepenuhnya kepada Allah dan jangan berburuk sangka. Apabila mereka berburuk sangka kepada Tuhan, maka solat mereka tidak akan lurus, tidak juga puasa dan zakat mereka akan lurus. Buruk sangka akan menghilangkan kecantikan pohon iman, sepatutnya pohon iman itu berkembang disebabkan keyakinan.

Sebab itu saya berkali-kali menasihatkan anggota jemaatku bahawa sekarang ini adalah zaman kematian. Jika kamu menjalani kehidupan maut ini dengan hati yang bersih, maka kamu akan hidup dari kematian itu dan akan diselamatkan dari kematian yang hina.

Setiap mukmin akan mengalami keadaan bahawa jika dia ikhlas dan setia kepada Tuhan, maka Tuhan akan menjadi wali baginya. Tetapi jika tembok keimanan itu lemah, ia berhadapan dengan bahaya. Kita tidak tahu keadaan hati seseorang. Isi dalam dada hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, insan akan terperangkap dengan pengkhianatannya. Jika urusan dengan Tuhan tidak bersih, maka bai’at tidak memberi manfaat langsung kepadanya. Tetapi, jika kamu memang benar-benar kepunyaan Tuhan, maka Tuhan akan memeliharanya. Walaupun Dia adalah Tuhan bagi semua, namun bagi orang yang memberikan perhatian yang istimewa, maka Tuhan juga akan menunjukkan tajalli-Nya yang khas. ..... Saya berkali-kali juga menasihatkan kepada anggota jemaatku agar jangan merasa puas setelah bai’at sekiranya hati belum suci. Meletakkan tangan atas tangan apa manfaatnya sekiranya hati begitu jauh, demikian juga jika hati tidak selari dengan lidah, maka ikrarnya adalah munafik, orang seperti ini hendaklah ingat bahawa ada dua azab yang akan menimpanya. Tetapi, orang yang berikrar dengan betul, maka dosa-dosanya akan diampunkan, dan akan mendapat kehidupan yang baru.” (Malfoozaat Jilid 3, halaman 64)

NASIHAT KHAS UNTUK ANGGOTA JEMAAT

Hazrat Masih Mau’ud a.s berkata:-
“Zaman sekarang ini kelihatan sangat rosak. Banyak perkara syirik, bid’ah dan kerosakan lain telah muncul. Janji yang dibuat semasa bai’at iaitu “saya akan mengutamakan agama di atas dunia”, janji itu adalah janji di hadapan Tuhan. Jadi, peliharalah ia sehingga mati atau kamu tidak melafazkan janji bai’at itu. Tetapi, jika ia kekal maka Allah Ta’ala akan memberikan berkat atas agama dan dunia kamu. Bertakwalah dengan sempurna menurut kehendak Allah Ta’ala. Zaman ini sangat sukar sekali. Kemurkaan Tuhan sedang kelihatan. Mereka yang beramal sesuai dengan keinginan Allah Ta’ala, dia sebenarnya telah berlaku ihsan atas diri, keluarga dan anak-anaknya.

Lihat insan yang makan roti. Jika dia tidak makan mengikut ukuran yang sepatutnya, dia akan tetap merasa lapar. Adakah dia akan merasa kenyang jika hanya makan secubit roti? Sudah pasti tidak. Dan jika dia menitiskan setitis air ke lehernya, dia belum pasti selamat malah, dengan titisan air itu dia mungkin mati. Untuk menyelamatkan diri, dia perlu mengambil makanan yang secukupnya dan minum air mengikut kuantiti yang dikehendaki oleh tubuh. Demikian jugalah keadaan iman seseorang. Jika amalannya tidak mencapai tingkat yang sepatutnya, dia belum tentu selamat. Keimanan, ketakwaan dan mentaati perintah Tuhan haruslah dilakukan dengan cara yang sepatutnya sebagaimana seseorang yang mengambil makanan dan minuman untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga.” (Malfoozaat Jilid 3, halaman 68)

Friday, January 7, 2011

Khutbah


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Khutbah Jumaat Khalifatulmasih V atba
Pada  24.12.2010
Setelah membaca tasyahud dan Surat Alfatihah beliau menilawatkan ayat 187 dari Surah Al Baqarah sebabgai berikut :
Artinya : Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doá orang yang memohon apabila ia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaknya mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (Al Baqarah: 187)
Sambil mengumumkan Jalsah Salanah Qadian yang akan dimulai pada tarikh 26 December 2010, Huzur atba mengenang kembali suasana Jalsah-jalsah Salanah yang terakhir diselenggarakan di Rabwah yang sangat menggembirakan sekali pada tahun 1983 atau 27 tahun yang lalu. Selama tiga hari Jalsah Salanah di Rabwah digunakan demi menggugah dan menyegarkan iman. Anak-anak sekolah dengan sangat semangat sekali mengisi borang sebelum menjalankan tugas-tugas mereka, tugas apa saja yang mereka pilih atau tugas apa saja yang telah ditetapkan bagi mereka. Generasi yang dilahirkan dalam tempoh 27 tahun terakhir ini tentu tidak memiliki pengalaman dalam menjalankan tugas ini. Tentu banyak keluarga yang tidak dapat mengingat saat-saat menggembirakan tersebut, bahkan barangkali tidak mempunyai wawasan tentang pekerjaan yang dilakukan seperti itu. Huzur atba menyatakan harapan agar keluarga-keluarga yang menetap di Rabwah selalu mengenang memory suasana Jalsah-jalsah tersebut agar tetap hidup didalam pikiran mereka.  Generasi baru harus dapat membayangkan hari-hari berbahagia itu di mana semua orang-orang muda dan orang-orang tua selalu merasa puas atau kenyang dengan limpahan berbagai macam santapan ruhani dan diwaktu itu Rabwah dihiasi dengan warna-warni keindahan laksana seorang pengantin, kedai2  tampak indah dihiasi, pasar-pasar sementara didirikan untuk memenuhi segala keperluan para tamu, bus-bus dan kereta-kereta api khusus dioperasikan dan dengan penuh gairah di setiap rumah tangga dipersiapkan tempat untuk para tetamu. Beberapa keluarga menyiapkan seluruh fasilitas rumah mereka untuk para tamu sedangkan untuk mereka sendiri mendirikan tenda dihalaman bagian depan atau bagian belakang rumah mereka.  Huzur atba bersabda bahwa, hal ini bukanlah perkara khayalan atau hanya dibuat-buat belaka, namun suasana kegembiraan seperti itu pasti akan tiba masanya untuk dihidupkan kembali. Kita bukan manusia berputus asa terhadap rahmat Tuhan, akan tapi kita akan terus memohon kepada-Nya sebab, kita selalu berpegang teguh pada keyakinan terhadap  firman-Nya:
 “Dan siapakah yang berputus asa akan rahmat dari Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat?” (Al Hijr, 15:57). Jadi, kita tidak akan berputus asa bahwa hari-hari seperti itu pasti akan kembali lagi, atau bagaimanakah gerangan boleh kembali lagi? Hari-hari seperti itu pasti akan kembali lagi karena kita percaya dan yakin sekali akan Kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa.  
Hazrat Masih Mau’ud a.s. menulis bahwa apabila penganiayaan dan penindasan sudah sampai pada puncaknya, maka Tuhan datang untuk menolong hamba-hamba-Nya yang lemah ini; sementara segala rencana atau usaha musuh itu sudah berakhir, rencana Tuhan tidak berhenti dan akan tetap berjalan. Tuhan berfirman:
‘Dan dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah Maha Pelindung, Maha Terpuji’. (Asy Syuuraa, 42:29). Huzur atba bersabda bahwa, apabila Tuhan datang untuk memberikan pertolongan dengan rahmat-Nya kepada orang-orang yang sedang teraniaya dan hampir berputus asa, maka anugerah pertolongan-Nya terhadap orang-orang beriman akan lebih besar lagi, sebagaimana firman-Nya tentang mereka itu: ‘Allah itu sahabat orang-orang beriman; ..…’ (2:258). Tuhan tidak akan membuat mereka putus-asa dan sungguh telah dipastikan akan datangnya pertolongan terhadap orang-orang mukmin di antara mereka yang unggul dalam upaya merendahkan dirinya, yaitu orang-orang yang dinyatakan dengan firman-Nya:
 ‘Dan Dia mengabulkan doa-doa orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan Dia menambahkan kepada mereka sebagian karunia-Nya .…’ (42:27). Turunnya anugerah Tuhan itu selalu di luar pemikiran manusia.  
Bagi orang-orang yang akan hadir pada Jalsah Salanah Qadian, terutama yang datang dari Pakistan, Huzur bersabda bahwa, hanyalah orang yang sesat yang berputus asa akan rahmat Tuhan, sedangkan kita adalah para pengikut Imam Mahdi diakhir zaman ini, yang sudah diajari untuk melangkahkan kaki diatas jalan yang lurus. Tuhan telah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada noor atau cahaya terang benderang. Orang-orang Ahmadi tahu dan sadar akan hal ini, dan itulah sebabnya mereka dapat bertahan dalam menghadapi berbagai macam kesukaran dan rintangan. Akan tetapi, Huzur atba bersabda bahwa, ada  orang-orang yang melakukan pengkhidmatan terhadap Jema’at juga merasa gelisah menghadapi kesulitan-kesulitan itu dan diantara mereka ada yang menulis surat surat juga kepada Huzur bahwa mengapa masa kesulitan itu terus berlangsung secara berkepanjangan dan memohon agar kesulitan itu berakhir dalam waktu yang singkat, kemudian setelah itu situasi akan menjadi lebih baik. Huzur atba menjelaskan bahwa waktu yang singkat itu tidak ada artinya dalam kehidupan suatu bangsa. Orang-orang yang progressive mempunyai pandangan jauh kedepan tentang kemajuan yang dapat dicapai secara global. Gerak-cepat kemajuan kita sudah meningkat berlipat kali ganda, bahkan Jema’at di Pakistan sendiri yang sedang dihimpit oleh berbagai macam kesulitan dan tantangan sangat keras banyak kemajuan-kemajuan yang telah mereka peroleh. Memang, di sana ada beberapa larangan dan pembatasan kepada Jema’at kita, kita juga telah kehilangan beberapa nyawa yang sangat berharga di sana ; orang-orang Jemaat disana dan Khalifah Waqt sama-sama ingin berjumpa satu sama lain, namun, Tuhan telah menurunkan karunia-Nya kepada kita, walaupun ada pembatasan atau larangan mengadakan Ijtima dan Jalsah di Pakistan namun berkat adanya siaran-siaran langsung MTA, orang-orang Ahmadi disana dapat mengikuti dan menyaksikan banyak Jalsah-jalsah dan Ijtima-ijtima di seluruh dunia melalui siaran MTA ini. Jadi, Tuhan tidak berhenti menurunkan hidangan ruhani kepada kita, jangan sampai kita terpengaruh oleh perasaan putus-asa, melainkan kita harus menempa kegelisahan itu dengan Shalat dan doa-doa.   Huzur atba membayangkan kembali kegembiraan Jalsah Salanah di Rabwah yang penuh sesak dengan orang-orang ramai tetapi tidak pernah terjadi keributan. Orang-orang laki-laki dan perempuan berjalan ditepi jalan masing-masing yang terpisah dari jalan-jalan umum. Setiap orang laki-laki harus ingat akan kesucian kaum wanita dan setiap wanita harus selalu ingat akan kesederhanaan mereka. Tidak akan pernah ada pertanyaan dari orang-orang yang berseberangan jalan. Pemandangan ini menggugah ingatan orang kepada jalan-jalan di Medinah, di mana dalam salah satu Hadits, Yang Mulia Rasulullah s.a.w. menyukai kaum wanita berjalan di sebelah pinggiran tembok jalan, di mana mereka sangat mematuhinya.  
Huzur atba memberi nasihat kepada mereka yang akan hadir pada Jalsah Qadian ini, terutama bagi mereka yang akan datang untuk pertama kalinya, mereka harus berhati-hati dengan jalan-jalan yang sempit dan supaya ingat untuk berjalan di jalur yang terpisah bagi pria dan wanitanya. Huzur atba juga mengharapkan mereka untuk tetap dawwam dalam mengerjakan Shalat selama Jalsah. Ada sekitar 7000 orang tamu yang sudah tiba di Qadian dan masih banyak lagi yang akan datang. Mereka yang datang dari Pakistan akan memperoleh pengalaman langsung hadir mengikuti acara-acara Jalsah. Huzur atba mengingatkan kepada setiap orang jangan sampai membuat keributan di sekitar tempat Jalsah, baik ditempat tinggal, di ruangan tempat makan atau-pun di Jalsah Gah. Huzur atba bersabda, keributan boleh timbul disebabkan sifat egoisme, jika setiap orang dapat menunjukkan sifat pengorbanan satu sama lain maka tidak akan pernah terjadi keributan. Huzur bersabda bahwa, kadang-kadang ada tukang fitnah yang berusaha menciptakan kebingungan, namun sama sekali jangan memberi kesempatan kepada mereka itu. Orang-orang  Hindu, Sikh dan Kristiani juga terdapat diantara penduduk Qadian dan orang-orang Ahmadi harus memperlihatkan rasa hormat kepada mereka semuanya. Bahkan jika ada orang di antara mereka yang berkata sesuatu yang salah, kita harus tetap berusaha mengendalikan emosi kita.  
Huzur atba menasihatkan kepada semua peserta Jalsah untuk memusatkan  perhatian masing-masing terhadap Shalat dan berdoa, karena tidak ada tujuan lain dari menghadiri Jalsah ini kecuali untuk meningkatkan martabat ruhani kita. Alangkah baiknya Tuhan kita bahwa Dia telah memberi keyakinan kepada kita melalui ayat-ayat seperti ini:
‘‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah “Sesungguhnya Aku dekat, Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka bisa mengikut jalan yang benar.”  
Dalam hal ini, tidak akan ada waktu yang lebih baik dan tepat untuk Shalat dan berdoa kepada Tuhan daripada pada saat kita sedang menghadiri Jalsah. Dewasa ini, orang-orang Ahmadi Pakistan adalah orang-orang yang paling susah dan menderita di dunia di mana mereka harus mengalihkan kesedihan dan kesusahan mereka itu kepada doa-doa sambil mencucurkan air mata dihadapan Tuhan, sebagaimana firman-Nya:
Atau, siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya, dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah Tuhan lain selain Allah? Kamu sangat  sedikit sekali memikirkannya.’ (An Naml, 27:63).  
Mereka yang sudah diberi kesempatan untuk hadir pada Jalsah Qadian ini harus dapat menggoyangkan Langit dan Bumi melalui rintihan dan tangisan doa-doa mereka sehingga membuat kehidupan material dan kehidupan spiritual berjalan dengan baik. Huzur menasihatkan kepada para petugas Jalsah juga untuk sibuk dalam mengingat Allah selama mereka menjalankan tugas dan orang-orang mukmin sejati tidak hanya berdoa bagi diri mereka sendiri yang sedang dalam kesulitan, tetapi mereka juga berdoa bagi seluruh Jemaat dan bagi tegaknya agama Nabi Suci s.a.w., dan juga berdo’a untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Doa orang-orang yang sedang dihimpit oleh kesusahan yang sangat keras pasti akan dikabulkan oleh Tuhan. Tuhan bukan saja akan menghilangkan kesulitan-kesulitan sebagai suatu ganjaran dan Dia juga menahan tangan orang-orang zalim yang menindas dan menganiaya mereka, sebagaimana Dia berfirman: ‘… dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi …’ (27:63). Huzur menjelaskan bahwa hal ini adalah taqdir Ilahi dan tidak ada so’al keputus-asaan di dalamnya. Tidak perlu mengeluh karena keputus-asaan dan terus bertanya-tanya tentang datangnya waktu yang singkat dan cepat yang akan menjadi lebih baik. Jika kerendahan hati dapat dipertahankan, maka ‘waktu yang singkat’ menjadi waktu yang lebih baik itu akan datang, dengan menghilangkan semua kesulitan dan menundukkan orang-orang tukang fitnah. Apa yang kita perlukan ialah kita harus menghormati kewajiban beribadah menyembah Sang Pencipta Hakiki, menjaga dan menjauhi semua jenis perbuatan syirik yaitu menyekutukan Tuhan   dan memelihara generasi mendatang terhadap hal tersebut. Inilah perkara yang akan membawa banyak keberkahan dan akan mendatangkan banyak karunia turun dari Tuhan.  
Huzur atba bersabda bahwa, Tuhan kita Tercinta mengatakan bahwa ganjaran-ganjaran-Nya akan diberikan lebih besar lagi kepada orang-orang yang menundukkan kepala sambil memanjatkan do’a-do’a kepada-Nya dengan penuh ke-khusyuan. Kita tidak boleh merasa ragu apakah permintaan doa dalam kesedihan kita ini akan sampai kepada Dia ataukah tidak. Namun Tuhan berfirman: ‘…. Aku dekat …..’ tetapi syaratnya adalah manusia harus tetap yakin dengan teguh diwaktu menghadap kepada-Nya dan siap mendengar serta mentaati perintah-perintah-Nya.  
Hazrat Masih Mau’ud a.s.bersabda : “Dalam jangka waktu sejak mulai memanjatkan doa sampai sa’at pengabulannya,  manusia seringkali ditimpa banyak sekali ujian berupa musibah yang sangat berat sehingga kadang-kadang punggung terasa akan patah. Seorang yang berdoa dengan tekun dan  sabar dapat mencium aroma kemurahan dan kebaikan Tuhan-nya di sa’at sedang menghadapi ujian dan kesulitan itu dan akal pikiran mereka memahami bahwa mereka akan segera dianugerahi pertolongan. Satu aspek dari pada ujian-ujian ini adalah mereka itu dibantu dengan keinginan untuk memanjatkan do’a kepada Tuhan. Semakin besar kesulitan yang dihadapi oleh seorang yang berdoa, maka jiwanya akan semakin mencair dihadapan Allah swt. Itulah salah  satu factor terkabulnya doa seorang hamba. Jadi manusia jangan sampai patah hati dan jangan sampai punya pikiran buruk tentang Tuhan dengan menunjukkan kegelisahan sebagai tanda orang yang tidak sabar. Manusia janganlah mengira, apakah doanya itu tidak diterima atau tidak akan dikabulkan. Dugaan semacam itu merupakan penolakan terhadap sifat Tuhan bahwa Dia mengabulkan doa-doa hamba-hamba-Nya.’ (Malfuzat, Jilid. IV, hal. 434)
Huzur atba bersabda bahwa, disamping betapa hebatnya perlawanan atau oposisi musuh terhadap kita, bukan saja kita dapat mencium aroma yang manis, tetapi dengan karunia Tuhan, kita justru sedang menikmati buah kejayaan dan sukses yang berlimpah. Tanpa diragukan lagi, setiap orang yang menjadi syahid didalam Jemaat kita menimbulkan kesedihan dan kepedihan, akan tetapi oleh karena pengorbanan-pengorbanan para syuhada ini diterima oleh Tuhan sehingga dampaknya membawa buah-buah kesuksesan kepada kita.  
Dewasa ini orang-orang Ahmadi   di Pakistan dan orang-orang Ahmadi di beberapa tempat di India dan di beberapa Negara lainnya sedang benar-benar merasakan kesukaran yang menyedihkan. Apabila kesedihan seperti itu telah timbul, maka saatnya untuk pengabulan doa-pun sudah menjadi dekat. Huzur menasihatkan agar kesedihan ini dapat dialihkan secara ekstrim kepada permohonan doa sambil mencucurkan air mata kehadhirat Tuhan selama Jalsah ini kemudian membuatnya sebagai bagian dari amalan yang permanent didalam kehidupan kita. Huzur atba berdoa semoga Tuhan memberi taufik dan kemampuan kepada kita semua untuk menunaikan Shalat dan berdoa dengan cara yang akan mengubah kesedihan kita yang mendalam itu menjadi sebuah kegembiraan yang kekal dan semoga kita dimasukkan kedalam kelompok orang-orang yang mendapat anugerah kemurahan dan kasih-sayang Tuhan. 


KEDEKATAN RASULULLAH saw KEPADA ALLAH SWT(SAMBUNGAN)

Kalau kita meninjau alam material secara keseluruhan, kita akan melihat juga fenomena ini. Allah s.w.t. telah menyempurnakan ciptaan-Nya dengan memulai dari zarah paling kecil sampai kepada benda langit yang terbesar yaitu matahari. Dalam sistem material ini tidak diragukan bahwa Allah s.w.t. telah mencipta-kan matahari sebagai suatu benda yang akbar, berberkat dan bermanfaat dimana tidak ada benda lain yang menyamainya di tingkat paling tinggi. Dengan memperhatikan derajat yang tertinggi dan terendah dari sistem demikian yang secara kasat mata bisa diperhatikan, kita bisa memahami bahwa sistem keruhanian pun yang berasal dari Wujud-Nya, ternyata disusun dalam cara yang sama. Sistem keruhanian ini pun memiliki titik tertinggi dan terendahnya. Kinerja Allah s.w.t. dengan demikian selalu sama dan seimbang. Dia itu Maha Tunggal dan dalam manifestasi kinerja-Nya, Dia pun menyukai ketunggalan. Tidak ada tempat bagi kerancuan dan perpecahan. Betapa indah dan pantasnya Dia dalam metoda-Nya sehingga semua hasil kinerja-Nya mengikuti suatu sistem yang baku dan dipadankan satu dengan yang lain.
Dengan menemukan bukti di segenap penjuru dan setelah kami telaah sendiri, kami mengakui kadiah-Nya bahwa semua hasil kinerja-Nya, baik secara keruhanian maupun material, tidak baur dan rancu melainkan mengikuti suatu sistem yang bijak dan merupakan bagian dari suatu pengaturan yang dimulai dari titik terendah bergerak ke arah yang tertinggi, dimana metoda seragam ini disukai oleh Wujud-Nya. Dengan mengakui hal ini maka kami harus mengakui bahwa sebagaimana dalam sistem material yang dimulai dari sebutir zarah atau partikel, Tuhan telah membawa ciptaan-Nya sampai kepada bentuk yang akbar yaitu matahari yang mengandung kesempurnaan yang kasat mata, begitu juga kiranya dalam hal yang berkaitan dengan matahari keruhanian yang terletak di titik tertinggi dari garis lurus keruhanian.
Sekarang untuk meneliti siapakah manusia sempurna yang diandaikan sebagai matahari keruhanian tersebut, bukanlah suatu hal yang bisa dipecahkan semata-mata hanya berdasar logika saja. Dengan mengecualikan Allah s.w.t. yang memiliki kelebihan kemampuan dalam menyeimbangkan dan mengatur bermilyar-milyar makhluk-Nya serta membanding-bandingkan kemampuan spiritual dan sifatnya masing-masing untuk menetapkan siapa yang paling akbar dari antara sekalian makhluk tersebut, bagi manusia mustahil melakukannya berdasar penalaran belaka.

KEDEKATAN RASULULLAH saw KEPADA ALLAH SWT

Allah SWT tidak akan menciptakan Tuhan lain mirip wujud-Nya karena sifat Ke-Esaan dan sifat tidak ada yang menyamai-Nya yang bersifat kekal mencegah-Nya melakukan hal demikian. Namun Dia ada menciptakan contoh dari sifat Tanpa Tandingan itu dengan menciptakan salah seorang makhluk-Nya sebagai refleksi dari sifat-sifat-Nya yang dalam realitas hanya menjadi milik-Nya semata.
Ada sebuah indikasi mengenai hal ini di Al-Qur’an dalam ayat:

“Inilah Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain, di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengan mereka dan setengahnya Dia hanya tinggikan derajatnya .....(S.2 Al-Baqarah: 254).

Disini yang dimaksud dengan yang dilebihkan derajatnya adalah Hadzrat Rasulullah s.a.w. kepada siapa telah dikaruniakan derajat tertinggi yang merupakan refleksi dari sifat-sifat Ilahi dan beliau menjadi cermin yang memantulkan Allah s.w.t. Dengan cara demikian telah dimanifestasikan secara sempurna kekhalifahan Ilahi untuk mana tidak saja telah diciptakan umat manusia tetapi juga keseluruhan alam. Hal ini merupakan masalah yang pelik dan para lawan kita yang tidak memahami masalah ini serta tidak mengenal rahasia-rahasia Tuhan, biasanya lalu bertanya-tanya bagaimana mungkin dari sekian juta manusia hanya satu saja yang dapat mencapai derajat khalifah Ilahi yang paling sempurna yang merupakan refleksi daripada Ketuhanan itu sendiri.
Bukanlah disini tempatnya untuk membahas secara rinci masalah ini, namun perlu dijelaskan agar menjadi terang bagi para pencari kebenaran, bahwa semua itu merupakan kaidah Ilahi yang sejalan dengan sifat Ketauhidan-Nya karena sifat Tunggal-Nya dalam penciptaan maka Dia juga memperhatikan ketunggalan. Jika kita renungi apa yang telah diciptakan-Nya secara mendalam, kita akan melihat bahwa keseluruhan ciptaan itu teratur sedemikian rupa sehingga merupakan sebuah garis lurus dimana ujung yang satu mencuat naik ke atas sedangkan ujung lainnya terbenam ke bawah. Pada ujung tertinggi adalah seorang manusia yang dalam kapasitas kemanusiaannya berada di atas seluruh umat manusia, sedangkan pada ujung yang paling rendah adalah para jiwa yang memiliki kapasitas yang demikian defektif sehingga mendekati derajat hewan yang tidak berperasaan.


KEDEKATAN RASULULLAH saw KEPADA ALLAH SWT

Kedekatan Rasulullah saw kepada Allah swt





Allah SWT tidak akan menciptakan Tuhan lain mirip wujud-Nya karena sifat Ke-Esaan dan sifat tidak adayang menyamai-Nya yang bersifat kekal mencegah-Nya melakukan hal demikian. Namun Dia ada menciptakan contoh dari sifat Tanpa Tandingan itu dengan menciptakan salah seorang makhluk-Nya sebagai refleksi dari sifat-sifat-Nya yang dalam realitas hanya menjadi milik-Nya semata.
Ada sebuah indikasi mengenai hal ini di Al-Qur’an dalam ayat:

“Inilah Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain, di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengan mereka dan setengahnya Dia hanya tinggikan derajatnya .....(S.2 Al-Baqarah: 254).

Disini yang dimaksud dengan yang dilebihkan derajatnya adalah Hadzrat Rasulullah s.a.w. kepada siapa telah dikaruniakan derajat tertinggi yang merupakan refleksi dari sifat-sifat Ilahi dan beliau menjadi cermin yang memantulkan Allah s.w.t. Dengan cara demikian telah dimanifestasikan secara sempurna kekhalifahan Ilahi untuk mana tidak saja telah diciptakan umat manusia tetapi juga keseluruhan alam. Hal ini merupakan masalah yang pelik dan para lawan kita yang tidak memahami masalah ini serta tidak mengenal rahasia-rahasia Tuhan, biasanya lalu bertanya-tanya bagaimana mungkin dari sekian juta manusia hanya satu saja yang dapat mencapai derajat khalifah Ilahi yang paling sempurna yang merupakan refleksi daripada Ketuhanan itu sendiri.
Bukanlah disini tempatnya untuk membahas secara rinci masalah ini, namun perlu dijelaskan agar menjadi terang bagi para pencari kebenaran, bahwa semua itu merupakan kaidah Ilahi yang sejalan dengan sifat Ketauhidan-Nya karena sifat Tunggal-Nya dalam penciptaan maka Dia juga memperhatikan ketunggalan. Jika kita renungi apa yang telah diciptakan-Nya secara mendalam, kita akan melihat bahwa keseluruhan ciptaan itu teratur sedemikian rupa sehingga merupakan sebuah garis lurus dimana ujung yang satu mencuat naik ke atas sedangkan ujung lainnya terbenam ke bawah. Pada ujung tertinggi adalah seorang manusia yang dalam kapasitas kemanusiaannya berada di atas seluruh umat manusia, sedangkan pada ujung yang paling rendah adalah para jiwa yang memiliki kapasitas yang demikian defektif sehingga mendekati derajat hewan yang tidak berperasaan.