Friday, January 7, 2011

KEDEKATAN RASULULLAH saw KEPADA ALLAH SWT

Kedekatan Rasulullah saw kepada Allah swt





Allah SWT tidak akan menciptakan Tuhan lain mirip wujud-Nya karena sifat Ke-Esaan dan sifat tidak adayang menyamai-Nya yang bersifat kekal mencegah-Nya melakukan hal demikian. Namun Dia ada menciptakan contoh dari sifat Tanpa Tandingan itu dengan menciptakan salah seorang makhluk-Nya sebagai refleksi dari sifat-sifat-Nya yang dalam realitas hanya menjadi milik-Nya semata.
Ada sebuah indikasi mengenai hal ini di Al-Qur’an dalam ayat:

“Inilah Rasul-rasul yang telah Kami lebihkan setengahnya dari yang lain, di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengan mereka dan setengahnya Dia hanya tinggikan derajatnya .....(S.2 Al-Baqarah: 254).

Disini yang dimaksud dengan yang dilebihkan derajatnya adalah Hadzrat Rasulullah s.a.w. kepada siapa telah dikaruniakan derajat tertinggi yang merupakan refleksi dari sifat-sifat Ilahi dan beliau menjadi cermin yang memantulkan Allah s.w.t. Dengan cara demikian telah dimanifestasikan secara sempurna kekhalifahan Ilahi untuk mana tidak saja telah diciptakan umat manusia tetapi juga keseluruhan alam. Hal ini merupakan masalah yang pelik dan para lawan kita yang tidak memahami masalah ini serta tidak mengenal rahasia-rahasia Tuhan, biasanya lalu bertanya-tanya bagaimana mungkin dari sekian juta manusia hanya satu saja yang dapat mencapai derajat khalifah Ilahi yang paling sempurna yang merupakan refleksi daripada Ketuhanan itu sendiri.
Bukanlah disini tempatnya untuk membahas secara rinci masalah ini, namun perlu dijelaskan agar menjadi terang bagi para pencari kebenaran, bahwa semua itu merupakan kaidah Ilahi yang sejalan dengan sifat Ketauhidan-Nya karena sifat Tunggal-Nya dalam penciptaan maka Dia juga memperhatikan ketunggalan. Jika kita renungi apa yang telah diciptakan-Nya secara mendalam, kita akan melihat bahwa keseluruhan ciptaan itu teratur sedemikian rupa sehingga merupakan sebuah garis lurus dimana ujung yang satu mencuat naik ke atas sedangkan ujung lainnya terbenam ke bawah. Pada ujung tertinggi adalah seorang manusia yang dalam kapasitas kemanusiaannya berada di atas seluruh umat manusia, sedangkan pada ujung yang paling rendah adalah para jiwa yang memiliki kapasitas yang demikian defektif sehingga mendekati derajat hewan yang tidak berperasaan.

No comments:

Post a Comment